Dongeng Masa Lalu Ortu

Posted by phychole On Rabu, 02 April 2008 0 komentar
Baik Jadi Motivasi, Buruk Jadi Pelajaran
Kisah 1001 malam, dongeng Cinderella, atau cerita jenaka Abunawas, tampaknya, harus berhati-hati sekarang. Kepopuleran mereka mulai tergantikan oleh dongeng yang diambil dari kejadian nyata beberapa dekade lalu dengan ayah dan bunda sebagai pemeran utama.

Bukan asal ngomong, lho. Ini hasil investigasi cermat kepada DetEksiholic. Sebanyak 85,9 persen di antaranya pernah mendengar dongeng tentang masa kecil ortu. Nggak cuma cerita baik (80,2 persen), kisah buruk (19,8 persen) seperti kenakalan ortu pun dibagikan kepada sang anak. Hampir semuanya (90,7 persen) mengaku suka. Tuh, percaya kan?

Seperti ibunda Alan Widiaka Yudistira. Nggak mau kalah sama teknologi yang terus berkembang, beliau meng-upgrade gaya nasihatnya. Mama Alan sering menyelipkan nasihat dari cerita soal prestasi-prestasinya di masa lampau.

"Mama suka bercerita kalau beliau dulu selalu menjadi juara kelas. Uhh… Mama paling semangat deh nyeritain kepintarannya saat sekolah," ucap pelajar SMA Santo Yusup ini bangga.

Alan mengaku betah mendengar ortunya berceloteh. "Iya, aku suka banget, lho. Soalnya, dari cerita beliau, aku jadi termotivasi untuk mengikuti jejaknya," imbuhnya. Imbas dari cerita positif sang ortu, Alan makin rajin belajar dan prestasi sekolahnya cukup memuaskan.

Memang, cerita masa kecil ortumu cuma yang bagus-bagus aja, ya? "Selama ini sih begitu," cuapnya. Mungkin, ortu Alan khawatir ditiru sang anak kalau cerita yang buruk-buruk. "Padahal, kalau ortu cerita keburukannya di masa lalu, itu bisa jadi pelajaran berharga buatku. Supaya aku nggak melakukan kesalahan yang sama," paparnya.

Ortu Febrianto Alif pun melakukan cara serupa. Mama-papa cowok asal SMAN 19 itu rajin membagi pengalaman masa kecilnya kepada sang anak. "Kebanyakan soal sekolah. Ortuku ngasih nasihat lewat cerita-cerita beliau," kata Alif, sapaannya.

Dikasih cerita yang baik-baik dari ortu, Alif nggak langsung percaya. "Masak iya papa atau mama dulu waktu kecil nggak pernah bandel?" cetusnya. Alif pun mendesak sang ortu untuk membuka tabir kenakalan masa kecil. "Akhirnya, ortu cerita bahwa dulu kerjaannya main melulu. Tapi, mendekati ujian, belajarnya langsung dikebut," ungkap Alif.

Kebetulan, Alif juga hobi main dan sering lupa belajar. Jadi, cerita dari ortu bisa jadi pelajaran baginya. "Kuncinya, aku harus bisa bagi waktu," tegasnya. Pengalaman ortu jadi guru terbaik buat Alif, sama dengan yang dirasakan 61,7 persen responDet.

Hal tersebut juga dirasakan Anggit Rendragraha, pelajar SMPN 35. Sang mama bercerita bahwa beliau dulu lebih banyak punya temen lawan jenis. Itu sama seperti Anggit sekarang. "Lewat ceritanya, Mama berpesan supaya aku lebih berhati-hati berteman dengan lawan jenis," ungkapnya.

Galuh Ratna Anggraini juga kerap didongengi kisah masa kecil ortu. Bedanya, kali ini sang mama bercerita mengenai pengalaman mencari jati diri. "Mama bilang itu adalah sebuah fase. Jadi, kalau aku pengin mencoba sesuatu, asal dengan alasan yang jelas, mama pasti ngizinin," tutur pelajar SMPN 37 tersebut. (feb/nor) (jawapos)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda untuk postingan saya