Kepergian sang Maestro Keroncong GESANG

Posted by phychole On Kamis, 20 Mei 2010 0 komentar

Kamis malam Jumat 20 Mei 2010 pada pukul 18.10 WIB, Indonesia berduka telah kehilangan salah satu Maestro Keroncong Gesang Martohartono pencipta lagu Bengawan Solo ini wafat di ruang rawat ICU RS PKU Muhammdyah, Solo. Tim dokter yang menangani Gesang mengatakan kondisi pria berusia hampir 93 tahun itu terakhir sempat drop akibat sakit paru-paru yang dideritanya.

"Karena infeksi paru-parunya," ujar Ketua Tim Dokter Dr Suryo Adi Wibowo saat ditemui di RS PKU Muhammadyah, Jl Ronggowarsito, Solo, Kamis (20/5/2010).

"Besok akan dimakamkan di makam keluarga Trah Martodiharjo di kompleks pemakaman Pracimaloyo, di situ dimakamkan keluarga besar," kata keponakan Gesang, Hasanudin Santoso, di RS PKU Muhammadiyah, Surakarta, Kamis (20/5/2010).

"Gesang tidak memiliki anak dan istrinya sudah meninggal. Gesang anak ke 4 dari 10 bersaudara," terangnya.

Selamat jalan Gesang Martohartono karya karyamu akan terkenang sepanjang masa. Semoga Tuhan memberikan tempat yang layak bagi Gesang Martohartono sesuai dengan amal dan jasanya selama hidup di dunia.

sumber : detik.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Bengawan Solo... Riwayatmu kini... Sedari dulu.. Jadi perhatian insani.... Lagu Bengawan Solo, tak pernah pudar dari ingatan Bangsa Indonesia. Walaupun lagu ini telah berusia sekitar 70 tahun. Lagu itu, juga akan selalu mengingatkan bangsa Indonesia kepada sosok sang penciptanya, Gesang Martohartono.

Setelah keluar masuk rumah sakit, Gesang akhirnya tutup usia pukul 18.10, Kamis (20/5) di RS PKU Muhammadiyah Solo. Gesang meninggal karena maestro keroncong dari Solo ini tidak mau makan dan sering muntah.

Gesang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1917. Dia adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu. Lagu ciptaannya yang fenomela, Bengawan Solo, mengangkat namanya ke kancah musik Asia, terutama Jepang.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada 1983, Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.

Awalnya, pria yang juga menciptakan lagu Ojo Lamis itu, bukanlah seorang pencipta lagu. Dia hanya seorang penyanyi keroncong di acara kawinan dan pesta kecil di Solo.

Pada usia 23, Gesang mulai ikut memainkan flute saat bergabung dengan orkes keroncong. Kelompok musik itu memainkan lagu dari peninggalan Portugis abad ke-17. Saat itulah, Gesang menciptakan lagu Bengawan Solo.

Darah seni, telah mengalir dalam darah Gesang kecil. Gesang kecil telah bercita-cita membuat sebuah lagu yang akan dipersembahkannya kepada sungai Bengawan Solo.

Salah satu ciri yang ada pada diri Gesang sejak muda adalah kesetiannya terhadap seni. Kesetiaan pada seni itulah yang juga menyebabkan dia harus berpisah dengan istri karena selama berumah tangga Gesang selalu berpindah-pindah tempat tinggal, dari satu kota pementasan ke kota pementasan lainnya.

Selain kesetiaan pada seni, satu ciri lain yang menonjol pada Gesang adalah kesederhanaan pribadinya. Dia jauh dari impian yang muluk-muluk. Dia menerima seperti apa adanya semua yang menghampiri hidupnya. (MI/DSY)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda untuk postingan saya